Negara-negara Asia Hadapi Tekanan untuk Pilih Dukung China atau Amerika

Negara-negara Asia yang bangga pada kebijakan luar negeri mereka yang netral, kini menghadapi tekanan semakin besar untuk mendukung China atau Amerika, dalam sengketa kedaulatan laut yang rumit, tetapi mereka diperkirakan akan tetap menjaga hubungan itu agar bantuan tetap masuk.

Negara-negara Asia Tenggara yang menuntut klaim atas Laut China Selatan yang disengketakan, bergulat dengan prospek memilih ke pihak mana, dalam forum pertahanan tahunan Dialog Shangri-La akhir pekan lalu di Singapura.

Pertanyaan itu tampak sangat besar ketika Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong memperingatkan negara-negara kecil “dipaksa” untuk memihak.

Profesor urusan maritim internasional di Universitas Filipina, Jay Batoncbacal mengatakan, “Ini mungkin akan mengarah pada situasi yang oleh Perdana Menteri Singapura disebut, dipaksa untuk memilih antara dua pihak. Jadi, benar-benar masalah di sini jika hal itu terus meningkat.”

Ketika kedua negara adikuasa tidak setuju pada penguasaan atas laut dan masing-masing mencari dukungan dari luar, negara-negara Asia mungkin akan semakin sulit untuk mengandalkan keduanya sebagai teman. Kalau memihak ke AS resikonya mendapat hukuman ekonomi oleh China, tetapi Amerika mungkin melepaskan bantuan militernya kepada negara yang terang-terangan mendukung China.

China ingin negara-negara lain memajukan ekonomi dan pembicaraan bilateral untuk menyelesaikan masalah kedaulatan laut. Beijing telah mendorong eksplorasi bahan bakar bawah laut bersama Vietnam dan Filipina, dua negara di garis depan Laut China Selatan. China juga telah mendanai infrastruktur di Malaysia.

Pada forum Shangri-la Dialogue yang dihadiri oleh lebih dari 600 delegasi dari 40 negara, Menteri Pertahanan China Wei Fenghe meminta “kerja sama timbal balik” dan berharap tidak ada yang “meremehkan kebijaksanaan dan kemampuan negara-negara kawasan untuk menangani perbedaan dan menjaga perdamaian dengan baik.”

Tanpa menyebut Amerika, Wei menyerukan negara-negara lain untuk menolak siapapun yang menentang tujuan itu. Pemerintah AS tidak mengklaim laut, tetapi telah melewati kapal-kapal angkatan laut 11 kali sejak 2017 dan menerbangkan pesawat pembom B-52 melalui jalur air untuk mengawasi China.

China telah membuat khawatir sebagian besar negara Asia, khususnya Asia Tenggara, dengan membangun pulau-pulau kecil buatan untuk militer. (ps)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan